Mengendalikan Kekesalan
12 Ramadhan 1435 H
kesal. merupakan hal yang wajar, sering dialami oleh setiap orang. termasuk saya sendiri. sedikit berbagi saja..
kemarin siang dari jam 2 siang saya ada acara di Masjid Kampus UGM. acara itu baru selesai menjelang maghrib alias sampai mau berbuka puasa. saya dan kedua teman akhirnya berbuka dan sholat di sana. yaa seperti hari jumat dan selasa sebelumnya. saya punya acara di sana dan selalu berbuka, sholat di Masjid Kampus tersebut.
singkat cerita, setelah sholat saya pun langsung pergi meninggalkan parkiran. naik sepeda kesayangan. perjalanan pun berkisar setengah jam. dan sudah bisa dipastikan pasti saya tak kebagian tarawih di masjid rumah karena dua hari sebelumnya pun seperti itu.
yah, saya tetap menikmati perjalanan, menikmati suasana Jogja di malam hari. akhirnya saya sampai juga di rumah. pukul tujuh kurang lebih.
seperti biasa pula, saya membuka pagar, memasukkan sepeda. mencari kunci yang juga selalu ditinggal di toples dapur kalau hunian dalam keadaan kosong.
kucari kunci itu. dengan senter hp pula aku menerangi tempat setengah gelap itu. satu, dua, tidak ketemu juga. dimana kuncinyaa?
yah disitulah langsung muncul kesebalanku. saya langsung menyimpulkan pasti kuncinya dibawa tarawih. huh sama saja kalau begini. di rumah tapi nggak di rumah.
ya mau gimana lagi. saya pun hanya duduk di teras. menunggu bapak pulang dari masjid -_-
satu jam-an saya menunggunya, yaah dengan seluruh tenaga yang terakhir saya punya. yang saya syukuri adalah saya sudah makan. jadi ya tidak nelangsa banget.
rasanya ketika itu hanya sebal, sebal dan sebal.
langsung ending sajaa. ternyata kunci rumah ada di sekitar toples yang biasanya digunakan untuk menaruh. dengan kata lain tempat untuk menaruh kunci semalam sudah baru. huft -_- ya mana saya tahu. kan saya sudah mencari gak ketemu. dan pada akhirnya malah ditemukan bapak.
begitulah kekesalan saya. tapi rasa-rasanya sungguh tidak pantas jika kita harus kesal pada orang tua. masa iya sih kita menggrundel bla-bla-bla padahal mereka sangat berjasa banget bukan bagi hidup kita?
so, kendalikan kekesalan atau emosi kita dengan yang namanya orang tua terutama Ibu. bagaimanapun mereka, kita tetap harus berbuat baik :) :)
jadikan kekesalan sebuah pelajaran yang bisa dipetik sobat, :)
kesal. merupakan hal yang wajar, sering dialami oleh setiap orang. termasuk saya sendiri. sedikit berbagi saja..
kemarin siang dari jam 2 siang saya ada acara di Masjid Kampus UGM. acara itu baru selesai menjelang maghrib alias sampai mau berbuka puasa. saya dan kedua teman akhirnya berbuka dan sholat di sana. yaa seperti hari jumat dan selasa sebelumnya. saya punya acara di sana dan selalu berbuka, sholat di Masjid Kampus tersebut.
singkat cerita, setelah sholat saya pun langsung pergi meninggalkan parkiran. naik sepeda kesayangan. perjalanan pun berkisar setengah jam. dan sudah bisa dipastikan pasti saya tak kebagian tarawih di masjid rumah karena dua hari sebelumnya pun seperti itu.
yah, saya tetap menikmati perjalanan, menikmati suasana Jogja di malam hari. akhirnya saya sampai juga di rumah. pukul tujuh kurang lebih.
seperti biasa pula, saya membuka pagar, memasukkan sepeda. mencari kunci yang juga selalu ditinggal di toples dapur kalau hunian dalam keadaan kosong.
kucari kunci itu. dengan senter hp pula aku menerangi tempat setengah gelap itu. satu, dua, tidak ketemu juga. dimana kuncinyaa?
yah disitulah langsung muncul kesebalanku. saya langsung menyimpulkan pasti kuncinya dibawa tarawih. huh sama saja kalau begini. di rumah tapi nggak di rumah.
ya mau gimana lagi. saya pun hanya duduk di teras. menunggu bapak pulang dari masjid -_-
satu jam-an saya menunggunya, yaah dengan seluruh tenaga yang terakhir saya punya. yang saya syukuri adalah saya sudah makan. jadi ya tidak nelangsa banget.
rasanya ketika itu hanya sebal, sebal dan sebal.
langsung ending sajaa. ternyata kunci rumah ada di sekitar toples yang biasanya digunakan untuk menaruh. dengan kata lain tempat untuk menaruh kunci semalam sudah baru. huft -_- ya mana saya tahu. kan saya sudah mencari gak ketemu. dan pada akhirnya malah ditemukan bapak.
begitulah kekesalan saya. tapi rasa-rasanya sungguh tidak pantas jika kita harus kesal pada orang tua. masa iya sih kita menggrundel bla-bla-bla padahal mereka sangat berjasa banget bukan bagi hidup kita?
so, kendalikan kekesalan atau emosi kita dengan yang namanya orang tua terutama Ibu. bagaimanapun mereka, kita tetap harus berbuat baik :) :)
jadikan kekesalan sebuah pelajaran yang bisa dipetik sobat, :)
Komentar
Posting Komentar