Selepas kuliah, aku akan langsung menuju sebuah restoran Jepang yang sudah tak asing lagi karena sudah terlalu sering pergi ke tempat itu. Bukan sedang ditraktir teman atau banyak uang, boro-boro! Justru aku sangat anti dengan makan di tempat elit seperti itu. Mana cukup uang yang sehari-hari kupakai untuk membeli koran, buku wajib kuliah, makan, dan lain sebagainya dibawa ke restoran, restoran Jepang pula. Aih, uangku sangat pas-pasan, tak usahlah aku merepotkan orang tuaku di sana. Aku kemari, merantau untuk menuntut ilmu, bukan untuk main-main. Begitu pula kira-kira salah satu jawabanku ketika ditanya seorang teman mengapa aku sering pergi ke restoran ‘mantan penjajah’ Indonesia itu. Aku memang harus ke sana sebab, akan bertemu orang penting. Aku melihat ke pergelangan tangan. Jarum panjangku baru menunjukkan di angka duabelas. Setengah jam lagi kuliah usai. Entah sudah berapa kali aku menguap, kembali duduk dengan tegap, dan mencoba fokus mendengarkan ceramah dosen. Aku sangat t...