Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Kau, Aku dan Kora-kora

Kenangan. Ketika kerja nyata Di suatu desa Suatu masa Kenangan. Dimana Aku dan Kau Berada di suatu wahana Duduk bersama Kenangan. Awalnya yang kukira Kaukira Jadi bahagia Nyatanya itu berubah jadi lara. 23 Juli 2017IR~

Jauh

lebih baik jauh. dimana pun kau berpijak lebih baik jauh. lebih baik jauh. meski tertancap kapak lebih baik jauh. lebih baik jauh. walau kau meninggalkan jejak masih lebih baik jauh. bagiku lebih baik jauh. jauh. jauh.

Tujuh Tahun

Bukan sebentar Kujalani semua Dalam diam. Menyimpannya rapat Tanpa kau ketahui. Pun ketika kau ketahui Ku kan jadi kura-kura Dalam selimut. Bukan sebentar Kuhadapi segala rasa Dalam kelam. Menyimpannya rapat Tanpa kau ketahui. Pun ketika kau ketahui Ku takkan jadi apa-apa Meski dalam keriput. Bukankah bukan sebentar Ketika ku melepas segalanya Walau sedikit karam Tetap kusimpan rapat Tetap tak kau ketahui. Pun ketika kau ketahui Pasti itu di suatu masa Kusut! Jogja, 21 Juli 2017~IR

KARAM

paku tajam baru saja terhujam ke hati paling dalam. karam. sedangkan sang malam sudah lama menatap dengan KARAM ah mengapa semua muram? Jogja, 29102016 by: Intan Rahma

Tergores

Tergores Sakit memang Ada luka garang Yang terpaksa harus keluar melintang Ditengah karang. Tergores Sudah pasti perih sayang Malang Seperti kisah Sangkuriang Juga Malin Kundang. Biar, Biarlah goresan ini menjadi luka Sepuas-puasnya Kerana ini adalah cobaan jiwa Yang pasti kan buatku kuat di masa Selanjutnya. Jogja, 02022017 By: Intan Rahma

Di Bawah Langit Abu-abu

Di bawah langit abu-abu Ada biji keyakinan tertanam bahwa aku juga kamu pasti kan bertemu di lain waktu. Meskipun itu sendu... Sebab hal itu butuh waktu berminggu-minggu. Di bawah langit abu-abu aku melukismu mengurai rindu sebab sendu lama tak bertemu. Kuyu. Layu. Sayu. Di bawah langit abu-abu sengaja kutulis ini untukmu yang jauh dari peraduan tempat tinggalku... by: Intan Rahma 01022017

Lapang

Bang, Aku ini memang bukan kembang Yang sedap dipandang. Aku hanyalah gadis malang, Bang! Aku hanyalah karang Yang terbuang Di tanah seberang Bang! Meskipun aku ini meradang Kau campakkan tak berpandang Malang, Ada yang tak pernah hilang Sampai sekarang! Aku pun berpuji pada Tuhan Yang Penyayang Kalau aku masih punya hati lapang!!! Jogja, 25032016 by: Intan Rahma

Cinta dalam Sushi

Selepas kuliah, aku akan langsung menuju sebuah restoran Jepang yang sudah tak asing lagi karena sudah terlalu sering pergi ke tempat itu. Bukan sedang ditraktir teman atau banyak uang, boro-boro! Justru aku sangat anti dengan makan di tempat elit seperti itu. Mana cukup uang yang sehari-hari kupakai untuk membeli koran, buku wajib kuliah, makan, dan lain sebagainya dibawa ke restoran, restoran Jepang pula. Aih, uangku sangat pas-pasan, tak usahlah aku merepotkan orang tuaku di sana. Aku kemari, merantau untuk menuntut ilmu, bukan untuk main-main. Begitu pula kira-kira salah satu jawabanku ketika ditanya seorang teman mengapa aku sering pergi ke restoran ‘mantan penjajah’ Indonesia itu. Aku memang harus ke sana sebab, akan bertemu orang penting. Aku melihat ke pergelangan tangan. Jarum panjangku baru menunjukkan di angka duabelas. Setengah jam lagi kuliah usai. Entah sudah berapa kali aku menguap, kembali duduk dengan tegap, dan mencoba fokus mendengarkan ceramah dosen. Aku sangat t...