Cinta dalam Sushi
Selepas kuliah, aku akan langsung
menuju sebuah restoran Jepang yang sudah tak asing lagi karena sudah terlalu
sering pergi ke tempat itu. Bukan sedang ditraktir teman atau banyak uang,
boro-boro! Justru aku sangat anti dengan makan di tempat elit seperti itu. Mana
cukup uang yang sehari-hari kupakai untuk membeli koran, buku wajib kuliah, makan,
dan lain sebagainya dibawa ke restoran, restoran Jepang pula. Aih, uangku
sangat pas-pasan, tak usahlah aku merepotkan orang tuaku di sana. Aku kemari,
merantau untuk menuntut ilmu, bukan untuk main-main. Begitu pula kira-kira
salah satu jawabanku ketika ditanya seorang teman mengapa aku sering pergi ke
restoran ‘mantan penjajah’ Indonesia itu. Aku memang harus ke sana sebab, akan
bertemu orang penting.
Aku melihat ke pergelangan tangan.
Jarum panjangku baru menunjukkan di angka duabelas. Setengah jam lagi kuliah
usai. Entah sudah berapa kali aku menguap, kembali duduk dengan tegap, dan
mencoba fokus mendengarkan ceramah dosen. Aku sangat tak suka model kuliah
seperti ini. Bosaaan minta ampun deh! Namun, syukurlah aku masih bisa bertahan
untuk tidak terlelap. Sebab, hal yang membuatku tetap terjaga di tempat duduk
baris terakhir ini, aku hanya memikirkan satu hal: bertemu teman lama, orang
penting di tempat biasa.
Leo, teman sekelasku yang sangat
kritis dalam berpikir, cerewet, dan tukang tidur yang duduk di sebelahku sudah
terlelap sedari tadi. Ia juga salah satu teman yang tak menyukai kuliah model
ceramah dari dosen terus menerus. Leo lebih memilih tidur dan memberikan
smartphonenya ke teman yang duduk di depan untuk merekam suara dosen, daripada
harus mendengarkan dengan saksama seperti ketika SMA. Namun ia akan bersemangat
kuliah jika dosen menggunakan metode diskusi, presentasi, dan mempunyai efek
bagi pengembangan bakatnya yaitu public speaking. Sampai dosen pun membiarkan
ia tidur di kelas, karena rupanya mereka sudah pernah bersepakat sebelumnya!
Kocak broo, pakai materai pula. Apa-apaan tuh, dasar Leo! Hahaha.
Lima menit lagi, ya. Lima menit
lagi. Ayolah, cepat. Aku akan bertemu orang penting Pak, cepatlah sedikit.
Jangan lama-lama dan tak usah bercanda terus. Leluconmu tak lucu. Aku berkata
dalam hati, benar-benar tak sabar. Hmm, dosen ini tipikal yang selalu tepat
waktu, walaupun itu hanya satu menit jika belum waktunya pulang, kuliah tidak
akan berakhir. Meskipun waktu di jam dinding, jam tangan setiap orang mempunyai
menit berbeda, ia tetap kukuh mempertahankan anggapannya bahwa waktu di jam
tangannya lah yang paling benar. Ah hanya gara-gara tak ingin mengorupsi waktu
mahasiswa, sampai segitunya. Melelahkan sekali, huft.
“Baik, marilah kita akhiri
perkuliahan kali ini dengan membaca hamdalah,” akhirnya kata-kata yang sangat
kunantikan itu keluar juga dari mulut Pak Dosen tercinta. Hehee.
“Alhamdulillaaah,” ujar kami
serentak. Sementara aku segera melangkah cepat tanpa membangunkan Leo. Padahal ia telah berpesan kepadaku untuk
membangunkannya jika kuliah telah usai.
“Sorry Le, aku buru-buru. Byee,”
kataku lirih di dekat telinganya sambil sedikit berlari menuju parkiran.
Kami janjian di restoran itu pukul
13.00, sedangkan sekarang jam 12.20 tepat. Masih ada waktu untuk shalat dulu di
masjid, pikirku. Perjalanan dari kampus kesana juga tidaklah lama. Mungkin
sepuluh menit saja cukup.
****
Aku sampai. Restoran ini ramai
seperti biasa, dan setiap kali aku berkunjung ke tempat ini selalu terpampang
dengan jelas tulisan kanji dimanapun. Tak paham maksudnya apa. Yaiyalah, ini
kan restoran Jepang! Hmm, sampai-sampai aku pun bosan melihatnya. Kembali ku
melongok jam tangan, masih ada sisa waktu lima belas menit sebelum jam satu
siang. Sepertinya, lagi-lagi aku datang lebih dulu dari rekanku ini. Seratus
persen aku yakin, karena di tempat biasa kami duduk pula, ia belum nampak sama
sekali. Ah, rezeki memang tak pernah datang salah alamat. Yes! Aku akan dapat
traktiran Shusi lagi darinya.
Menunggu, dan lagi, aku menunggu. Iseng, aku
pun berkirim sms padanya. Tiga detik kemudian, ada balasan. Ia minta maaf
karena terlambat, ada hal penting yang harus segera diselesaikan, begitu
ujarnya. Baiklaah, demi sushi yang lezat, aku maafkan saja dia. Hehee.
****
“Bagaimana kuliahmu? Bulan lalu kau
mengeluhkan tentang masa-masa Ospekmu yang menyebalkan bukan? Cerita apa lagi
yang akan kau bagikan padaku hah?” laki-laki berkacamata tebal itu telah duduk
di depanku, sepuluh menit yang lalu.
“Ah kau ini, mengapa masih saja mengingat
cerita itu? Sudahlah, tak usah dibahas. Kali ini aku akan menceritakan kepadamu
tentang suatu proyek. Proyek masa depan broo,”
Seorang waitress menghampiri meja
kami. Pesanan telah datang, dua porsi sushi beserta orange juice untuk
dua sahabat yang sedang berbincang. Aku dan Tomi. Kami melanjutkan
perbincangan.
“Hey Fahri! Janganlah kau ceritakan
sesuatu yang berbau proyek, aku bosan mendengarkan kata itu. Setiap hari
duniaku berbau proyek. Maklumilah karibmu ini sobaat, bahaslah saja bagaimana
kuliahmu itu, bagikan ilmumu kepadaku, agar aku juga pintar macam kau. Okeee,”
Hhh, Tomi merusak semangatku yang
menggebu-gebu ini. Padahal aku segera ingin kesini untuk bertemu dengannya kan
hanya karena akan berbicara sebuah proyek. Proyek membuat mini film dalam
sebuah kompetisi. Eeh, tahunya malah dia menyuruhku bercerita sesuatu yang
sedang tidak membuatku bersemangat.
“Aduh Tom, aku cuma pengen cerita
tentang proyek. Lagi nggak mood banget nih ngomongin kuliah, bulan depan
deh ya. Aku tuh ada proyek bikin mini film, gimana? Kamu mau bantuin dan ikut
bukan? Ayolah,” ajakku kepadanya, sembari menyuapkan makanan favoritku dalam
mulut. Baru satu suapan.
“Ah ya sudahlah, jika itu maumu.
Cepat ceritakan!” rupanya ia sudah mengalah, raut wajahnya berubah. Untuk
menunjukkan kekecewaannya, ia memasukkan sushi ke dalam mulut yang ada
dihadapannya dua sendok sekaligus. Mantap! Aku hanya senyum-senyum melihat
tingkahnya.
“Prangggg!!!” ada sesuatu yang telah
jatuh ke lantai di meja sebelah. Gelas. Semua mata pun tertuju pada seorang
laki-laki dan perempuan. Termasuk aku. Sontak, kami mulai tidak nyaman dengan
kejadian itu. Yang mengganggu pengunjung restoran bukanlah gelas yang baru saja
dipecahkan, namun sikap dua orang yang ada di meja tersebut setelah memecahkan
gelas.
“Kamu ceroboh banget sih Suf,
malu-maluin tau gak sih.” Wanita berambut pendek itu berbisik pada lawan
bicaranya. Walaupun berbisik, nyatanya aku tetap mendengarnya, hehe. “Kan aku
dah bilang, makan dulu sushinya nanti kamu bakal nemuin sesuatu, dan itu ada
kaitannya sama jawaban tentang lamaranmu! Jadi, gak usah emosi lah Suf! Kayak
anak kecil aja huh! Ngeselin!” ia melanjutkan, sedangkan nada berbicaranya
semakin meninggi.
“Kamu tuh yang ceroboh! Aku gak suka
kamu PHP-in terus! Aku ini udah serius sama kamu, dan sekarang aku nurutin
permainanmu, mana buktinyaa hah? Nih liat, di dalem sushiku gak ada sesuatunya!
Liat sendiri nih!” awww, ternyata lelaki itu lebih garang dari yang kukira.
Tampangnya saja yang memang terlihat kalem, lemah lembut dan keren, tapi
ternyata galak juga. Wah..
“Tapi Suf, beneran deh. Sekarang aku
emang mau nunjukin sesuatu ke kamu. Dan itu jawaban dari hubungan kita
selanjutnya Suf, Pernikahan. Itu kan yang kita mau?” perempuan itu sekarang
menyahut dengan lebih tenang. Ia melanjutkan, “Kamu tenang dulu oke, kayaknya
ini pelayannya salah ngasih sushi. Aku mau ke kasir dulu.”
Tanpa disadari, aku dan Tomi telah
ikut masuk ke dalam dunia sepasang kekasih yang ada di meja samping. Sedetik
kemudian kami saling berpandangan.
“Hoahahahaha,” kami tertawa
bersamaan.
“Kita konyol banget deh Ri,
suer..kita kesini kan mau ngobrol panjang lebar, kenapa malah ngliatin FTV
dadakan ya?”
“Iya nih, aku juga gak nyangka kalo
bakal dapet tontonan dadakan. Ahahahaha.” Aku melanjutkan menyendok sushi.
Tiba-tiba, aku melihat sesuatu. Pikiranku pun juga langsung menjurus ke wanita
meja sebelah. Ada Cincin! “Tom, liat sini deh..”
“Apaan?” Tomi melongokkan wajahnya.
Mulutnya langsung membulat. Ia sepemikiran denganku.
“Waduh Tom, berabe nih. Masa pelayannya
salah kasih sushi sih. Berarti ini kan punya mereka. Kamu mikir kayak aku juga
kan Tom?”
“Iya Ri, bener banget. Pasti itu
punya mereka. Mana ada tulisan Devi & Yusuf pula. Siapa lagi kalau bukan
mereka? Cepet sono, kembaliin, keburu mereka putus!”
Hhh, berurusan dengan hal seperti
ini, membuatku takut kalau-kalau salah satu diantara mereka menjadi salah
paham. Gara-gara aku mengembalikannya. Tapi, kalau tak kukembalikan, aku juga
salah karena bisa jadi nanti mereka tidak jadi menikah karena cincin yang salah alamat ini. Huft, aneh-aneh saja wanita
itu. Ngapain pula meletakkan cincin di dalam sushi. Kalau tertelan bagaimana
coba? Sungguh, aku benar-benar kesal dibuatnya. Hanya menggerutu dalam hati.
Tomi, sedari tadi selalu
menyarankanku untuk segera mengembalikan cincin itu. Namun kaki ini ragu, sebab
aku takut kalau masalah ini bertambah besar. Menurutnya, aku akan berdosa
karena telah membuat orang lain salah paham bla-bla-bla. Aku hanya mengangguk.
Dengan penuh keberanian, kurapikan kerah kemejaku sambil mengantongi cincin
emas yang berkilauan, mulai berdiri mendekati meja yang masih juga penuh dengan
keributan. Bismillah, batinku.
Satu, dua, tiga detik, aku berjalan
pelan-pelan. Aah rupanya nyaliku langsung ciut. Sambil melihat raut wajah sang
lelaki, aku ketakutan. Garang. Kuputuskan saja untuk pergi ke toilet yang
untungnya masih satu arah. Ketika sudah agak jauh, aku menengok ke arah Tomi,
ia menepuk jidat sambil geleng-geleng. Hehehe, aku nggak berani Tom. Kataku
dalam hati seraya cengar-cengir.
**SELESAI**
Jogja, 29 Juni
2015.
11.35 am
by: Intan Rahma
Komentar
Posting Komentar