Kehilangan




Apa sih kehilangan itu? Berasal dari kata hilang yang bisa dikatakan tak terlihat, tak terdeteksi oleh kasat mata. Terkadang kehilangan memang sakit. Menyakitkan. Ah tapi kalau ada kehilangan pasti juga ada pertemuan dulu. Kehilangan tidak akan ada jika tak ada pertemuan.
Kemarin siang saya berta’ziyah ke rumah teman, bapaknya meninggal. Saya tidak terlalu akrab, tapi dia adalah familiar dalam kehidupan saya selama liburan ini. Liburan kuliah.
Jadi, ia adalah ketua komunitas yang saya ikuti. Sebenarnya sekadar tahu: “Oh dia,” itu sudah lama. Semenjak saya bergabung di atasannya komunitas itu-sebelum saya ikut di komunitas yang sekarang. Yah tapi itu tadi, hanya sekadar mengetahui saja, tidak atau belum kenal. Termasuk sifat-sifatnya.
Setelah saya bergabung di komunitas, saya jadi mengenalnya. Mengenal sosok ketua yang yaa belum bisa terlalu menyimpulkan sih, tapi itu tidak akan saya bahas di sini because saya ingin membicarakan kehilangan, bukan si pak ketua hehe.
Baiklah saya akan meneruskan..ceritanya balik lagi ke ta’ziyah ya..
Sebelum ta’ziyah, saya awalnya sangat bingung. Bingung banget. Pasti kalian bertanya-tanya kan kenapa? Oke langsung saya jawab. Karenaa, dari pagi alias dari subuh..hujan mengguyur begitu deras. Sampai jam berapa ya saya lupa, pokoknya jam dhuhur itu hujan baru reda dan menampakkan sebuah ‘ke-terang-an’. Hah keterangan? Haha maksud saya tidak gelap lagi gitu.. cerah. Walaupun nggak ceria. Hehe.
Dan saya pun bingung kan, gimana ini, bisa ikut layat apa enggak. ‘coz rumah teman saya ini juga jauh banget. Saya pun belum dapet boncengan kalau misalnya jadi ikut. Ibu saya yang awalnya mau mengantar malah nggak jadi karena harus jemput adik. Wah super duper bingung. Huft.
Akhirnya saya sms an dengan teman, ya tentunya membicarakan hal ini. Terus nih, Alhamdulillah dapet titik terang. Afifah, teman saya menawarkan tebengan, padahal rumahnya Kalasan. Lebih jauh dia. Ya tapi kan dia naik motor, sedangkan saya kemana-mana masih naik sepeda karena faktor motornya belum ada plus belum lancar naiknya hehe. Yaa, begitulah gerutu saya dalam hati kala itu.
Ya sudah deh kami berboncengan jam setelah dhuhur, sekitar pukul 12.30. Eh ceritanya jadi panjang banget hehe. Oke next, udah kok tapi, sampai situ aja kebingunganku. Pada intinya saya jadi ikut ta’ziyah. :)
Tiba di sana, upacara pemberangkatan jenazah sudah berlangsung. Rombongan kami langsung mengikuti jalannya acara. Nah ketika bagian inilah maksud dari isi tulisan saya.
Waktu upacara, betapa saya langsung membayangkan..kalau itu terjadi dengan saya, dan itu adalah ayah sayaa L saya benar-benar tidak bisa membayangkan. Lebih baik saya meninggal dulu dari pada ditinggal, begitu kata Afifah teman saya tadi. Dan saya menjadi anak pertama, otomatis beban yang saya pikul tambah berat :( ya Allah saya benar-benar besyukur masih bisa diberi kesempatan memiliki mereka, orang-orang tersayang.
Sedih memang. Sangat sedih. Saya melihat itu di mata teman saya-yang ayahnya meninggal. Walaupun tetap ada ketegaran, itu sangat terlihat. Namanya juga ditinggal orang tua. Teman saya, yang juga ikut ta’ziyah..hari minggu kemarin, berduka. Ibundanya meninggal. Ya Allah, orang yang baru saja berduka saja juga menyempatkan untuk ta’ziyah. Masa iya sih saya yang tidak terkena musibah apa-apa nggak mau menyempatkan diri kesana.
Betapa betapa, saya langsung menyadari itu. Berarti kemarin memang sudah dituntun dan dimudahkan Allah agar saya ini harus ikut. “Ini lho, temanmu saja yang juga kena musibah masih menyempatkan..masa kamu enggak?” begitulah kira-kira. L
Tanggal 25 Juni kemarin, salah satu teman saya lagi, Ayahnya meninggal. Dia juga datang di ta’ziyah. Ia jua termasuk teman dekat si pak ketua komunitas. Saya bisa merasakan, dia masih teringat pasti dengan sosok orang yang ia sayangi. Namun ada rasa tidak enak menyelimuti hati ini. Kemarin dan kemarin-kemarinnya lagi saya tidak bisa melayat ke rumah mereka: dua teman saya tadi.
Dan lagi-lagi saya menyadari, aah saya sedikit menyesal kenapa kemarin-kemarin tidak bisa layat. Mereka saja bisa, padahal ya itu tadi, mereka pun juga kena musibah yang sama.
Satu yang kutarik, mereka tetap menunjukkan ketegaran dalam kondisi apapun. Tapi kesedihan tetap tampak dari wajah mereka. Untuk temanku: memang, jiwa yang hilang tak bisa tertukar apapun. Tegarlah, dan tetap tersenyum. Doamu pasti slalu dinantikannya dalam alam yang lain. Semoga kalian semua bertemu kembali di Syurga-Nya. Insya Allah.
Keep smile and your spirit :) masa depan kalian masih panjang....   
 

Komentar